두근 두근

두근 두근

Dugun Dugun Poster

By :

thecuties

Romance, Song Fict | PG-13 | One-shot (1472 words)

Cast :

Son Dongwoon (BEAST)

Yoo In-na

Disclaimer : terinspirasi dari salah satu scene K-Drama The Greatest Love

εΐз 두근두근 εΐз

Yoo In-na mengedarkan pandangannya ke sekeliling pelataran terminal kedatangan di Incheon, kalau bukan karena variety show yang diasuhnya dan juga permintaan dari Shin PD-nim serta penulis Lee, dia tidak mungkin berada di tempat seramai ini.

Yoo In-na merapikan letak sunglasses yang digunakannya, bagaimanapun juga dia termasuk ke dalam jajaran artis papan atas di Korea. Muncul di tempat ramai seperti ini tanpa sedikit menyamar, bisa menimbulkan keramaian.

Setelah terus mengedarkan pandangannya selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Yoo In-na menangkap sosok yang harus ditemuinya tengah berjalan ke luar dari pintu terminal kedatangan. Walau pria itu mengenakan aviator glasses, Yoo In-na dapat mengenalinya, karena wajah pria itu yang tidak seperti orang Korea kebanyakan. Cepat, Yoo In-na melangkah mendekati pria tersebut.

Annyeonghaseyo, Captain Son Dongwoon,” sapa Yoo In-na sambil membuka sunglasses-nya.

Seorang flight attendant yang berdiri di sebelah Son Dongwoon memekik saat melihat Yoo In-na ada di hadapannya. “Omo, bukan kah itu Yoo In-na,” pekik flight attendant tersebut sambil menarik-narik lengan kemeja yang Dongwoon kenakan.

Sedangkan pria berwajah campuran itu sama sekali tidak terkejut dengan kemunculan Yoo In-na. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.

“Bagaimana anda bisa mengenalnya, Capt?” bisik si flight attendant yang sayangnya terdengar oleh Yoo In-na.

“Aku sendiri baru melihatnya hari ini, memangnya siapa dia?” tanya Dongwoon pada flight attendant yang berdiri di sebelahnya.

Sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi berhasil membuat si flight attendant dan Yoo In-na tersentak.

Heol! Dia tidak mengenaliku? Apa dia tidak memiliki televise? Atau karena terlalu sering terbang, dia jadi tidak mengetahui perkembangan di daratan, huh?” gerutu Yoo In-na dalam hati.

Sebisa mungkin Yoo In-na mengendalikan raut wajahnya dan memaksa kedua sudut bibirnya tertarik ke belakang untuk mengulaskan sebuah senyuman. “Ah, mianhae, seharusnya sejak awal saya sudah memperkenalkan diri pada anda,” ucap Yoo In-na.

“Nama saya Yoo In-na, dan saya adalah pembawa acara Making The Perfect Couple,” Yoo In-na mengulurkan tangannya pada Dongwoon.

Begitu mendengar Yoo In-na menyebutkan nama acara yang dia bawakan, Dongwoon terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. Yoo In-na menghembuskan nafas pelan. Sepertinya pria campuran ini sudah mengenali dirinya.

“Apakah kau yang semalam menghubungiku?” tanya Dongwoon yang dijawab anggukan oleh Yoo In-na.

“Apakah saat ini anda memiliki waktu? Karena ada yang ingin saya bicarakan dengan anda, dan ini penting,” Yoo In-na buru-buru menambahkan saat dilihatnya raut wajah Dongwoon yang siap untuk menolak. Dia pastikan pria berwajah campuran ini tidak akan menolak tawarannya untuk menjadi pengisi acara yang dipandu olehnya.

Dongwoon melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Well, aku memiliki waktu dua jam untuk istirahat, bagaimana kalau kita membicarakannya sambil makan siang?” tanya Dongwoon.

“Ide yang bagus,” jawab Yoo In-na cepat.

“Aku akan pergi makan siang dengannya, kabari aku kalau sudah waktunya untuk boarding,” sebelum pergi, Dongwoon meninggalkan pesan pada flight attendant yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.

“Baik, Capt!”

Setelah itu, Dongwoon dan Yoo In-na berjalan menuju area parkir di mana mobil Dongwoon berada.

εΐз 두근두근 εΐз

Yoo In-na mengutuk pria berwajah campuran yang sedang duduk di hadapannya saat ini. “Kenapa dia harus mengajakku makan siang di sini? Apakah dia tidak punya referensi restoran lainnya?” gerutu Yoo In-na dalam hati.

Seolah sengaja atau memang tidak peduli pada wajah Yoo In-na yang tertekuk, dengan santainya Dongwoon membolak-balik halaman menu.

Sedangkan Yoo In-na berusaha sebisa mungkin menutupi wajahnya, walau sebenarnya hal itu tidak berguna sama sekali. Saat ini seluruh pengunjung di Samarkand sedang sibuk berbisik sambil menunjuk ke arah mejanya dan Dongwoon. Bahkan sampai ada yang memotretnya menggunakan ponsel.

“Son Dongwoon-ssi, kenapa kau memilih tempat ini, huh?” gumam Yoo In-na pelan.

Waeyo? Kau tidak menyukai masakan Uzbekistan?” Dongwoon balik bertanya tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari daftar menu.

Ne, aku tidak suka makanan di sini, apakah kita bisa mencari restoran yang lain,” jawab Yoo In-na cepat.

Chua, kita cari restoran lain,” Dongwoon lalu menutup daftar menu dan beranjak dari duduknya. Cepat, Yoo In-na mengikuti Dongwoon dari belakang sambil bersyukur dalam hati.

εΐз 두근두근 εΐз

Kalau perbuatan membunuh tidak akan mendapat hukuman, sudah bisa dipastikan saat ini, Yoo In-na akan menebas leher pria yang ada di hadapannya. Begitu meninggalkan Samarkand yang berada di kawasan Uhyeon, Jung-gu, Dongwoon mengajak Yoo In-na menuju restoran makanan barat Yejeon yang berada di kawasan Wolmimunhwa.

Kalau di Samarkand tadi pengunjung hanya berani berbisik dan memotret secara diam-diam, berbeda dengan pengunjung di Yejeon yang cukup berani. Mereka mendatangi tempat Yoo In-na dan meminta berjabat tangan sekaligus tanda tangannya.

Karena banyaknya pengunjung yang menghampirinya, Yoo In-na sampai kewalahan dan tidak bisa memilih makanan untuk dirinya.

Melihat Yoo In-na yang kewalahan meladeni penggemar-penggemarnya, Dongwoon merasa sedikit iba. Perlahan dia membuka ponselnya dan mencari nomor ponsel Yoo In-na di sana. Beruntung, semalam Dongwoon tidak menghapus nomor wanita itu dari ponselnya, sehingga saat ini dia bisa sedikit menolongnya.

Yoo In-na yang sedang sibuk meladeni penggemar-penggemarnnya terkejut saat mendengar ponselnya berdering. Keningnya berkerut saat melihat nama Son Dongwoon yang muncul di sana. Yoo In-na langsung melirik Dongwoon yang duduk di hadapannya. Pria itu hanya memberi kode pada dirinya untuk segera menjawab panggilannya.

Wait a minute,” ujar Yoo In-na pada penggemar-penggemarnya, kemudian dia langsung menjawab panggilan tersebut.

Yeoboseyo?” ucapnya setelah menempelkan ponselnya di telinga kirinya.

“Gunakan cara ini sebagai alasan untuk membuat mereka pergi,” ujar Dongwoon.

Ye?”

“Saat kau terlihat sibuk berbicara di telepon, orang-orang yang menganggumu ini pasti akan pergi,” jelas Dongwoon.

Seketika itu juga Yoo In-na merasa ide dari Dongwoon tersebut memang benar. “Ah, silahkan teruskan,” ucap Yoo In-na, kemudian dia mengangkat tangannya membuat gestur menolak permintaan orang-orang yang mengelilinginya karena sedang sibuk menerima telepon. Setelah beberapa kali mendapat penolakan, akhirnya orang-orang yang mengelilingi Yoo In-na pergi juga.

“Akhirnya mereka pergi juga,” ucap Dongwoon masih tetap melalui sambungan telepon.

Yoo In-na tersenyum. “Gomawo.”

Mianhae, aku tidak menyangka kau akan dikelilingi oleh banyak penggemar,” ucap Dongwoon sungguh-sungguh. “Aku tidak pernah makan dengan seorang artis, sehingga aku tidak tahu tempat yang cocok untukmu.”

Entah mengapa, saat mendengar permintaan maaf yang tulus dari Dongwoon tadi, hati Yoo In-na menghangat. Di balik sikap acuh yang sejak tadi diperlihatkan oleh Dongwoon, ternyata pria ini memiliki sedikit rasa peduli juga.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Dongwoon setelah memutuskan sambungan teleponnya.

“Aku ingin menyerahkan ini padamu,” Yoo In-na menggeluarkan proposal acara Making The Perfect Couple dari dalam tasnya dan menyerahkan pada Dongwoon.

“Yonggyu Hyung benar-benar tidak mudah menyerah,” gumam Dongwoon sambil membuka-buka halaman proposal yang tadi Yoo In-na berikan.

“Shin Yonggyu PD-nim berharap setelah kau membaca proposal tersebut, kau bisa mempertimbangkannya lagi,” ujar Yoo In-na.

“Baiklah, aku akan membaca proposal ini, dan setelah kembali dari perjalanan ke Jakarta, aku akan memberikan jawabannya,” putus Dongwoon.

Yoo In-na menarik napas lega. “Aku harap kau mau tampil di acara kami.”

εΐз 두근두근 εΐз

Yoo In-na dan penulis Kim sedang berjalan bersama di lorong menuju ruangan milik Making The Perfect Couple sambil mengobrol. Saat baru membuka pintu, mereka bisa melihat Shim PD sedang berbicara dengan seorang pria. Kalau melihat dari punggungnya, Yoo In-na menerka kalau pria itu adalah Son Dongwoon.

Mianhae, Hyung. Aku sudah membaca proposalnya, tetapi aku tetap tidak bisa ikut dalam acaramu.”

Ucapan pria itu sukses membuat Yoo In-na, penulis Kim, dan Shin PD tertunduk. Setelah selesai mengucapkan penolakkannya, pria itu bangkit dari duduknya. Saat berpapasan dengan Yoo In-na dan penulis Kim, pria yang ternyata memang Son Dongwoon itu hanya menganggukan kepala sambil tersenyum dan berlalu.

Yoo In-na tercenung saat melihat Dongwoon yang seperti tidak mengenalinya, padahal dua hari yang lalu mereka baru saja bertemu dan mengobrol. Merasa aneh, Yoo In-na memutuskan untuk mengejar Dongwoon.

Chogiyo!” seru Yoo In-na menghentikan langkah Dongwoon.

Pria berwajah campuran itu menoleh dan keningnya sedikit berkerut.

“Kau tidak mengenaliku?” tembak Yoo In-na tepat sasaran yang dijawab anggukan oleh Dongwoon.

Yoo In-na mendengus kencang. Biarpun pria ini memiliki tampan, tetapi daya ingatnya sangat lemah, bagaimana bisa orang seperti ini menjadi seorang pilot?

“Namaku Yoo In-na, dua hari yang lalu kita bertemu dan mengobrol,” ucap Yoo In-na dengan nada suara yang dibuat setenang mungkin.

Dongwoon memperhatikan wajah Yoo In-na lekat sampai akhirnya berkata, “Ah, iya kita pernah bertemu sebelumnya. Sorry, saat itu tatanan rambutmu berbeda, sehingga aku tidak mengenalimu.”

Yoo In-na kembali mendengus. Saat bertemu dengan Dongwoon dua hari yang lalu, dia mengerai rambut panjangnya, sedangkan hari ini dia mengikat sebagian rambutnya dan sisanya tergerai di punggungnya. Tetapi, itu tidak merubah wajahnya sama sekali.

Melihat wajah Yoo In-na yang bersungut-sungut di hadapannya membuat Dongwoon tersenyum. Sepertinya dia sudah merusak mood wanita ini.

Mianhae, lain kali kalau aku bertemu dengan wanita cantik di jalanan, aku akan memperhatikannya lebih teliti lagi, karena siapa tahu itu dirimu,” ujar Dongwoon.

Entah kenapa, saat mendengar itu hati Yoo In-na menghangat, darahnya berdesir, dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ja, geurom,” ucap Dongwoon sebelum masuk ke dalam lift yang akan membawanya menuju lobby utama.

Tanpa sadar, salah satu tangan Yoo In-na bergerak menuju dadanya. “Ada apa dengan diriku? Aku biasa mendapat banyak pujian dari penggemarku, tetapi aku tidak pernah merasakan darahku berdesir dan jantungku berdetak cepat seperti ini. Aku tidak mungkin menyukai pria berwajah campuran itu, kan?”

εΐз Kkeut εΐз

I’m back, setelah hampir dua bulan tidak menulis FF, hari ini saya kembali membawa sebuah FF yang terinspirasi dari K-Drama The Greatest Love. Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena belum sempat membalas komentar-komentar yang masuk dikarenakan saya sedang dikejar oleh deadline revisi proposal tugas akhir. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih atas komentar-komentar yang masuk, komentar-komentar tersebut merupakan penyemangat untuk terus menulis :). Akhir kata saya tunggu komentar-komentarnya di FF. Chao ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s