You’ll Love Me, Oppa ~Part 2

Part 2

Hyora memandang pub yang ada di hadapannya dan kemudian mengalihkan pandangannya pada kertas kecil yang ada di tangannya. Hyora ingin memastikan bahwa alamat yang ada di kertas itu sama dengan alamat pub ini, setelah cukup yakin kalau alamatnya benar, Hyora langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam pub itu. Sebenarnya dia sedikit merasa tidak nyaman masuk ke tempat hiburan malam seperti ini, namun demi bertemu dengan Donghae, maka Hyora melakukan hal ini.

Hyora harus bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan Donghae, karena untuk bisa pergi ke tempat ini, tadi Hyora terpaksa berbohong pada Minhwa kakak iparnya, dia mengatakan kalau malam ini dia mau menginap di rumah Sujin untuk mengerjakan tugas kelompok dan Minhwa memberikannya ijin, untung saja saat ini Jungsoo kakaknya sedang pergi ke luar negeri, sehingga Hyora tidak perlu khawatir kakaknya yang cerewet itu mengetahui hal ini.

Hyora mengedarkan pandangannya mencari sosok Donghae dan dia tidak membutuhkan waktu lama, karena saat itu juga Hyora melihat sosok Donghae sedang berjalan membawa nampan yang berisi minuman. Hyora lalu mencari tempat duduk yang nyaman agar dia bisa memperhatikan Donghae dengan leluasa tanpa harus takut pria itu mengetahui keberadaannya.

Selama sepuluh menit Hyora hanya duduk sambil terus memperhatikan Donghae bekerja, tapi tiba-tiba saja, Hyora mendengar ada keributan di sudut pub, Hyora bangkit dari duduknya dan berusaha mencari tahu. Kedua matanya melebar saat melihat Donghae sedang dimaki-maki oleh salah satu tamu yang mabuk.

Hyora memperhatikan Donghae yang diam tidak memberikan pelawanan walaupun tamu itu terus memaki dirinya. Hyora ingin sekali menghampiri tamu itu dan menutup mulutnya agar tidak terus memaki Donghae, namun belum sempat Hyora melangkahkan kakinya, kedua mata Hyora kembali melebar saat melihat tamu itu menyiram Donghae dengan minumannya. Hyora bisa melihat rahang Donghae mengeras dan dia mengepalkan kedua tangannya, Hyora kira Donghae akan membalas perbuatan tamu itu, namun perkiraannya salah. Donghae langsung berbalik meninggalkan tamu itu. Saat Donghae melintas di depan Hyora, Hyora langsung mengikuti Donghae yang berjalan ke luar pub dari belakang.

Oppa, kenapa Oppa diam saja saat pria brengsek itu memaki Oppa?” tanya Hyora sambil terus berjalan mengikuti Donghae.

“Kalau aku jadi Oppa, sudah aku pukul dan tendang pria brengsek itu, seenaknya saja memaki orang,” ujar Hyora dengan emosi tinggi.

“Apa Oppa mau aku meminta bantuan dari Oppaku? Aku yakin para pengawal milik Oppaku bisa menghabisi pria brengsek itu dalam sekejap mata saja,” kata Hyora. Dia terus saja mengoceh tanpa mendapat balasan dari Donghae. Pria itu terus saja berjalan menjauhi pub tempatnya bekerja.

“Ah~ aku ada ide, bagaimana kalau kita kotori mobilnya saja? Kemudian kita buat keempat ban mobilnya kempes,” kata Hyora lagi. Seketika langkah Donghae yang sudah seperti lomba jalan cepat, kini berhenti. Dia berbalik lalu menatap Hyora dengan tajam. Gadis ini benar-benar tidak pernah menyerah untuk mendekatinya. Mendapatkan tatapan tajam dari Donghae membuat jantung Hyora jungkir balik karena senang.

Hya! Apa kau mengenalku?” tanya Donghae.

“Eh?” Hyora tersentak dengan pertanyaan Donghae itu. “Em… Em… Ya,” Hyora menjawab dengan tergagap. Dia merasa otaknya sangat sulit untuk digunakan saat mendapat tatapan tajam dari Donghae seperti ini.

“Kamu bilang, kamu dan aku adalah sepasang kekasih dalam kehidupan sebelumnya?”

“Ah~ itu maksudku…” Hyora bingung harus menjawab apa.

“Kamu bilang, kamu sudah mengenaliku sejak dulu, tapi sekarang aku belum mengenalimu?”

“Em… Itu… Ya sepertinya begitu,” jawab Hyora masih dengan tergagap. Donghae yang sejak tadi menatap Hyora dengan tajam, langsung berjalan mendekati Hyora dan tanpa Hyora bisa cegah, Donghae meraih tengkuk Hyora dan membuat wajah Hyora dan wajah Donghae menjadi sangat dekat, Hyora berpikir Donghae akan menciumnya, karena posisi wajah mereka yang begitu dekat. Keadaan seperti ini membuat jantung Hyora semakin jungkir balik dan tanpa bisa Hyora cegah wajahnya memanas. Untung saja keadaan seperti ini tidak berlangsung lama, Donghae segera melepaskan tangannya dari tengkuk Hyora dan menjauhkan wajahnya.

“Aku tidak merasakan apa-apa,” kata Donghae. “Kalau misalnya kita adalah kekasih di kehidupan yang lalu, bukankah seharusnya aku merasakan sesuatu?” tambah Donghae. Hyora hanya bisa terdiam mendengar perkataan itu. Otaknya masih belum bisa digunakan dengan baik.

“Kamu dan aku bukan kekasih di kehidupan yang lalu. Sekarang ataupun nanti, tidak ada alasan tepat yang bisa mengatakan kalau kita saling berhubungan, jadi aku harap untuk ke depannya kau jangan lagi mencampuri hidupku,” kata Donghae dengan suara tegas. Hyora lagi-lagi terdiam.

“Dan itu artinya kau harus segera keluar dari kehidupanku!” seru Donghae. Begitu selesai mengatakan kata-kata yang menyakitkan hati Hyora itu, Donghae langsung pergi meninggalkan Hyora begitu saja.

Begitu Donghae pergi, Hyora berusaha sekuat tenaga untuk menahan airmatanya yang sejak tadi sudah siap meluncur. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Donghae akan menyuruh Hyora untuk menjauhi dirinya dan Donghae juga melarang Hyora untuk mencampuri kehidupannya lagi. Hyora benar-benar terpukul. Padahal dia ingin sekali menjadi orang yang bisa membantu Donghae kapan saja pria itu mau.

-oo0oo-

Hari ini kebetulan Hyora sedang tidak ada jadwal kuliah, entah kenapa dia tiba-tiba memiliki ide untuk mengunjungi tempat tinggal Donghae. Beberapa hari yang lalu Donghae memang melarang Hyora untuk mendekatinya dan Hyora menuruti permintaan Donghae itu, tapi itu bukan berarti dia tidak boleh mengenal keluarga Donghae, kan? Maka berbekal kenekatan yang cukup besar, Hyora mengunjungi tempat tinggal Donghae. Hari ini Donghae pasti sedang kuliah, jadi Hyora bisa memastikan Donghae tidak akan mengetahui kalau Hyora datang ke tempat tinggalnya.

Sebelum sampai di tempat tinggal Donghae, Hyora meminta supir Jang untuk mampir sebentar ke toko buah, Hyora ingin memberikan sesuatu untuk keluarga Donghae. Karena tempat tinggal Donghae yang berada di jalanan yang sempit, maka terpaksa supir Jang menghentikan mobilnya di depan halte dekat tempat tinggal Donghae. Tadinya supir Jang memaksa ingin ikut menemani Hyora berjalan menuju tempat tinggal Donghae, namun Hyora melarangnya, dan dia juga mengatakan pada supir Jang, kalau dia membutuhkan bantuan, dia akan segera menghubungi supir Jang.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Hyora sampai juga di depan tempat tinggal Donghae. Tanpa pikir panjang, Hyora lalu mengetuk pelan pintu yang ada di depannya, tak lama kemudian Hyora mendengar langkah kaki mendekati pintu dan akhirnya pintu itu terbuka. Saat ini di hadapannya ada seorang gadis yang Hyora bisa pastikan adalah adik Donghae sedang memandang Hyora dengan wajah bingung.

Annyeonghaseyo, apakah benar ini rumah Lee Donghae?” sapa Hyora.

Ne benar sekali, kalau boleh tahu anda siapa?” tanya gadis itu.

Hyora tersenyum ramah. “Kenalkan, namaku Park Hyora dan aku adalah adik kelas Donghae di kampus,” jawab Hyora. Tiba-tiba Hyora mendengar suara seorang wanita dari dalam rumah. “Soohae, siapa yang datang?” tanya wanita itu, suara wanita itu terdengar sangat lemah.

“Temannya Donghae Oppa, Amma,” jawab Soohae.

“Teman Donghae?” seorang wanita datang menghampiri Soohae dan wanita itu langsung terbatuk-batuk.

Melihat kemunculan wanita yang Hyora bisa pastikan adalah ibu Donghae, Hyora langsung menyapanya. “Annyeonghaseyo Omonim, jeoneun Park Hyora imnida,” ujar Hyora sambil membungkukan badan.

“Oh annyeonghaseyo,” balas ibu Donghae. “Ayo masuk,” ibu Donghae mempersilahkan Hyora untuk masuk ke dalam rumah.

Saat melihat keadaan rumah Donghae hati Hyora terasa seperti diiris pisau, bagaimana mungkin Donghae bersama keluarganya bisa tinggal di rumah yang begitu kecil, kamar Hyora jauh lebih besar dari rumah ini.

“Silahkan duduk, Onnie,” Soohae adik Donghae mempersilahkan Hyora untuk duduk di salah satu bangku kayu yang ada di dekat pintu masuk tadi. Hyora mengangguk sopan dan kemudian duduk.

“Aku tidak menyangka kalau Donghae memiliki teman secantik dirimu, Agassi,” puji ibu Donghae dan kemudian kembali terbatuk. Hyora hanya bisa tersenyum sopan saat mendengar pujian itu. “Omonim, bisa memanggilku Hyora saja, tidak usah memanggilku dengan sebutan Agassi,” kata Hyora.

“Oh iya, Omonim. Ini aku bawakan sedikit oleh-oleh untuk kalian,” Hyora menyerahkan satu keranjang buah yang tadi dibelinya pada ibu Donghae.

Omona, gomapta Hyora-ya, kau baik sekali,” kata ibu Donghae dan kembali terbatuk pelan. Hyora memperhatikan ibu Donghae, wanita ini pastinya tidak lebih tua dari ibunya yang berada di New York, tapi Hyora bisa melihat kerutan-kerutan di wajah wanita itu.

Saat sedang asyik mengobrol bersama dengan ibu Donghae dan Soohae, tiba-tiba saja ibu Donghae terlihat seperti kesulitan bernafas. Soohae langsung mendekati ibunya.

Amma, gwaenchanayo?” tanya Soohae dengan panik yang membuat Hyora ikut panik.

“Soohae-ya, kenapa dengan Omonim?” tanya Hyora.

“Aku tidak tahu, Onnie. Tapi mungkin penyakit lama Amma kambuh lagi,” jawab Soohae. Saat ini gadis itu sudah mulai menangis.

“Lebih baik kita bawa Omonim ke Rumah Sakit saja,” Hyora lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi supir Jang. Tak lama supir Jang datang. Dia langsung membantu Hyora dan Soohae membawa ibu Donghae masuk ke dalam mobil.

Begitu sampai di Rumah Sakit, ibu Donghae langsung dibawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan, sedangkan Hyora dan Soohae duduk menunggu di luar dengan tidak tenang.

“Soohae-ya!” mendengar suara Donghae, Hyora dan Soohae segera mengangkat kepala dan berdiri dari kursi. Donghae berlari menghampiri dengan raut wajah cemas.

“Bagaimana keadaan Amma?” tanya Donghae dengan panik dan nafas tidak beraturan.

“Aku juga belum tahu Oppa, sekarang Dokter sedang memeriksa Amma,” jawab Soohae.

“Apa yang terjadi?” tanya Donghae masih dengan kepanikan yang belum mereda.

“Tadi saat sedang mengobrol bersama dengan Hyora Onnie, tiba-tiba saja Amma kesulitan bernafas, dan Hyora Onnie langsung membawa Amma kemari,” jelas Soohae. Donghae yang sedari tadi menatap adiknya, langsung mengalihkan pandangannya dan menatap tajam Hyora.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Donghae dengan sinis. Belum sempat Hyora menjawab, Dokter dan dua perawat keluar dari kamar rawat. Donghae dan Soohae langsung menghambur ke arah Dokter berambut putih dan berkacamata itu.

“Bagaimana keadaan ibuku, Dokter?” tanya Donghae cepat. Dokter itu membetulkan letak kacamatanya dan menatap Donghae.

“Dokter Shin, bagaimana keadaannya?” tanya Hyora pada Dokter Shin. Dokter Shin adalah Dokter pribadi keluarga Hyora. Dokter Shin mengalihkan pandangan ke arah Hyora. “Hyora-ya? Kau mengenal pasien itu?”

Hyora mengangguk cepat. Dokter Shin lalu menatap Hyora dengan pandangan serius. Dia berdeham sebelum akhirnya mengatakan, “Pasien perlu perawatan intensif, penyakit radang paru-parunya sudah semakin parah, dan kalau tidak segera ditangani, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada pasien.”

Donghae, Soohae, dan Hyora tersentak mendengar perkataan dari Dokter Shin itu. Hyora bisa melihat Soohae menangis dalam rangkulan Donghae yang juga tampak terpukul.

“Dokter Shin, aku mohon padamu, segera berikan perawatan terbaik padanya,” kata Hyora cepat tanpa memperdulikan Donghae yang sudah menatapnya dengan kening berkerut.

“Baiklah, kalau begitu, kau bisa mengurus administrasinya terlebih dahulu,” kata Dokter Shin dan Hyora mengangguk. Setelah itu Dokter Shin pergi meninggalkan Donghae, Soohae, dan Hyora. Saat Hyora akan berjalan menuju tempat mengurus administrasi, Donghae menahan tangan Hyora.

Hya! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau seenaknya saja memutuskan hal ini? Dia itu ibuku,” tanya Donghae sambil menatap Hyora tajam.

Hyora mendengus pelan. “Oppa, kita tidak punya banyak waktu, kita harus segera menyelamatkan ibumu, jadi aku harap Oppa tidak menolak ini semua dan ijinkan aku membantumu.”

Donghae terdiam. Saat ini dia benar-benar bingung harus berbuat apa. Disatu sisi dia memang sangat membutuhkan bantuan dari Hyora, namun disisi lain Donghae merasa egonya sedikit tersentil, dia tidak mau menerima bantuan dari Hyora, karena dia tidak mau berhutang budi pada gadis itu.

Oppa bisa mengganti semua yang telah aku berikan pada ibumu hari ini, jadi aku mohon terimalah bantuan dariku ini,” kata Hyora seolah membaca keraguan yang tergambar jelas di wajah Donghae. Donghae kembali terdiam, dia kembali berpikir menimbang semua perkataan Hyora tadi.

“Baiklah, kali ini aku terima bantuan darimu,” akhirnya Donghae memutuskan untuk menerima bantuan dari Hyora dan hal itu membuat Hyora senang. “Jangan tersenyum senang seperti itu, nanti setelah aku memiliki cukup uang, aku pasti akan membayar semuanya padamu,” tambah Donghae dengan ketus.

Mendengar itu Hyora hanya tersenyum kecil. Pria yang ada di hadapannya saat ini memang memiliki gengsi yang sangat tinggi, tapi Hyora tidak mau memusingkan hal itu lagi, yang terpenting sekarang Donghae mau menerima bantuannya. “Ya sudah, terserah Oppa saja, sekarang aku mau mengurus semua administrasinya, Oppa dan Soohae lebih baik masuk ke dalam saja, mungkin Omonim sedang menunggu kalian,” kata Hyora dan kemudian dia pergi meninggalkan Donghae dan Soohae. Setelah selesai mengurus semua administrasi untuk ibu Donghae, Hyora sengaja mampir ke ruang kerja Dokter Shin, dia perlu memperingatkan Dokter itu agar tidak membuka mulutnya dan memberitahukan semua ini pada Jungsoo kakaknya.

Saat sampai di depan ruang kerja Dokter Shin, Hyora mengetuk pelan pintu ruang kerja itu, setelah terdengar jawaban dari dalam, Hyora lalu membuka pintu ruang kerja Dokter Shin dan menyembulkan kepalanya.

“Hyora-ya, ayo masuk,” Dokter Shin mempersilahkan Hyora masuk.

“Ada apa ini?” tanya Dokter Shin saat Hyora sudah duduk di hadapannya.

“Begini Dokter, aku ingin Dokter merahasiakan semua yang terjadi hari ini dari Jungsoo Oppa,” kata Hyora. Dokter Shin terlihat mengerutkan keningnya. “Kenapa?” tanya Dokter Shin.

“Aku hanya tidak ingin Jungsoo Oppa mengetahui kedekatanku dengan pria itu,” jawab Hyora.

Dokter Shin langsung tersenyum kecil. “Ah~ aku tahu, pasti Jungsoo masih belum mengijinkanmu untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, kan?” tebak Dokter Shin dan Hyora hanya mengangguk kecil.

“Baiklah kalau itu maumu, semua rahasia ini akan aman bersama denganku, kau tenang saja,” kata Dokter Shin masih dengan senyumannya. Mendengar itu Hyora bisa bernafas lega. Setidaknya untuk saat ini dia tidak perlu takut kakaknya itu mengetahui hal ini semua. Sebelum Hyora yakin dengan perasaan Donghae padanya, dia tidak ingin Jungsoo kakaknya mengetahui ini.

-oo0oo-

Hyora mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin, kemarin saat di Rumah Sakit, Donghae mengatakan ingin bertemu dengannya di kantin siang hari ini. Hyora merasa sangat senang, karena akhirnya dia bisa juga makan siang bersama dengan Donghae, Hyora tidak menghabiskan banyak waktu untuk mencari Donghae, karena dia menemukan pria itu sedang duduk sendirian di sudut kantin seperti biasanya.

Hyora langsung bergegas menghampiri Donghae dengan senyum yang lebar. “Annyeong Oppa,” sapa Hyora dengan riang.

Donghae mengangkat wajahnya dan menatap Hyora. “Naega ni Oppa ya?” tanya Donghae dengan sinis. Hyora tercengang mendengar pertanyaan itu.

Oppa rago malhajima!” ujar Donghae galak.

Waeyo?” tanya Hyora dengan polos.

“Karena aku bukan kakakmu,” jawab Donghae ketus yang membuat Hyora kesal.

“Tapi Oppa lebih tua dariku, jadi aku harus memanggilmu Oppa,” kata Hyora.

Donghae mendecak kesal. “Hya! Panggil aku Sunbae.”

Sireo!” tolak Hyora. Hari ini dia tidak mau mengalah dengan pria yang ada di hadapannya ini. Pokoknya Hyora akan memanggil Donghae dengan sebutan ‘Oppa’.

Hya!” ujar Donghae geram. Dia lalu menarik nafas, dan berusaha untuk tidak menelan Hyora hidup-hidup. “Cepat serahkan bill Rumah Sakit kemarin,” kata Donghae sambil mengasungkan tangannya pada Hyora.

Sireo,” tolak Hyora yang sukses membuat kedua mata Donghae melebar. “Hya, neo!” Donghae sudah benar-benar kesal dengan Hyora.

“Aku tidak akan memberikan bill itu sebelum Oppa mengijinkanku untuk memanggilmu dengan panggilan ‘Oppa’,” kata Hyora. Dia lalu mengeluarkan bill Rumah Sakit kemarin dari dalam tasnya.

“Cepat berikan padaku!” pinta Donghae sambil mengasungkan kembali tangannya.

Ige,” Hyora menyerahkan bill itu pada Donghae, namun pada saat Donghae ingin mengambil bill itu, dengan cepat Hyora menarik tangannya.

Donghae lalu memandang Hyora dengan galak. “Hya, jangnan hajima!”

Hyora hanya tersenyum kecil. Dia senang sekali bisa menggoda Donghae seperti ini. “Ijinkan aku memanggilmu ‘Oppa’ maka aku akan memberikan bill ini padamu,” kata Hyora.

Donghae mendengus kesal. “Maeumderoya!”

Hyora tersenyum penuh kemenangan saat mendengar Donghae mengatakan hal itu.

“Ayo cepat serahkan bill itu padaku, aku tidak ingin terus berhutang padamu,” Donghae kembali mengasungkan tangannya pada Hyora.

“Ini untukmu, Oppa,” Hyora menyerahkan bill Rumah Sakit pada Donghae. Dengan cepat Donghae menyambar bill itu dan langsung memasukkannya ke dalam saku celananya. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan hal ini membuat Hyora heran.

Oppa, oddie gayo?” tanya Hyora dengan heran.

“Urusanku denganmu sudah selesai, jadi aku mau pergi,” jawab Donghae sambil menyampirkan postman bagnya di bahu.

Oppa tidak mau makan siang denganku dulu?” tanya Hyora lagi. Donghae melambaikan tangannya sambil terus berjalan meninggalkan Hyora sendiri.

Aish! Kenapa dia pergi begitu saja?” umpat Hyora.

-oo0oo-

Oppa mwo hae?” tanya Hyora sambil duduk di sebelah Donghae yang tampak sibuk dengan koran yang ada di hadapannya. Perbuatan Hyora ini berhasil membuat Donghae terkejut.

“Ah gachapta!” seru Donghae. Dia lalu menoleh ke arah Hyora dan menatap Hyora galak. “Hya, neo gwisin iya?!” omel Donghae. Hyora hanya tersenyum lebar menanggapi omelan Donghae itu. “Oppa mwo hae?” Hyora mengulangi pertanyaannya tadi.

Amugeotdo aniya,” jawab Donghae sambil buru-buru melipat koran yang ada di hadapannya. Namun, dengan cepat Hyora merebut koran itu dari tangan Donghae, dan ternyata Donghae sedang mencari pekerjaan, karena Hyora melihat ada beberapa lingkaran yang Donghae buat di sana.

Oppa sedang mencari pekerjaan?” tanya Hyora.

Donghae berdecak kesal. Sepertinya hobi dari gadis ini adalah selalu mencampuri urusannya, dan Donghae tidak suka itu. “Aku harus berterima kasih padamu, karena kamu aku harus mencari pekerjaan tambahan lagi,” kata Donghae.

Hyora terkekeh pelan. Jadi Donghae mencari pekerjaan lagi untuk membayar hutang padanya. “Aku tidak pernah memaksa Oppa untuk membayar semua itu, bukankah Oppa sendiri yang memaksa ingin membayarku?” kata Hyora. Lagi-lagi Donghae berdecak kesal. Sepertinya dia memang tidak pernah bisa menang jika sedang berbicara dengan gadis itu.

“Aku tidak mau berhutang budi padamu,” ujar Donghae cepat dan Hyora hanya mengangguk-angguk kecil. Ternyata Donghae benar-benar memiliki harga diri yang tinggi, dan Hyora kagum dengan sifat Donghae itu. “Lalu apa Oppa sudah menemukan pekerjaan yanga baru?” tanya Hyora.

Donghae mendengus pelan. “Semua pekerjaan yang ada di sini, memiliki waktu yang bertabrakan dengan jadwal pekerjaanku di pub, dan aku tidak mungkin berhenti bekerja di pub,” gumam Donghae pelan.

Seketika itu juga sebuah ide melintas di benak Hyora. Sepertinya dia bisa memasukkan Donghae bekerja di coffee shop milik sahabat Minhwa kakak iparnya dan kalau Donghae bekerja di sana, Donghae tidak perlu lagi bekerja di pub itu.

“Lebih baik Oppa berhenti saja bekerja di pub itu,” kata Hyora.

Hya! Bukankah tadi aku sudah bilang tidak mungkin keluar dari pub itu, karena pendapatanku di pub itu bisa dibilang cukup besar,” ujar Donghae.

Oppa tenang saja, aku tahu sebuah tempat yang bisa memberikan uang dua kali lipat lebih banyak dari pub itu, dan aku jamin jadwal bekerjanya juga bisa Oppa sesuaikan,” kata Hyora.

Donghae lalu menatap Hyora dengan penuh minat. “Benarkah?”

“Benar sekali,” jawab Hyora mantap. “Kalau Oppa mau, hari ini juga aku bisa mengajak Oppa ke sana, bagaimana?”

Donghae tampak berpikir sejenak. Sepertinya tidak ada salahnya untuk kali ini dia mengikuti perkataan gadis itu, siapa tahu saja pekerjaan ini bisa menghasilkan uang yang lebih banyak lagi. “Baiklah, tapi setelah ini aku masih ada jadwal kuliah, jadi kita baru bisa pergi ke sana pukul empat sore nanti,” kata Donghae.

Oppa tenang saja, aku juga masih ada jadwal kuliah,” ujar Hyora, dia lalu melirik jam tangannya dan langsung tersentak. Dia lupa kalau lima menit lagi kelasnya akan dimulai. Dengan tergesa-gesa Hyora beranjak dari duduknya.

Oppa, kita bertemu lagi di sini tepat pukul empat ya, sekarang aku harus segera pergi, na ganta,” Hyora langsung pergi meninggalkan Donghae begitu saja.

-oo0oo-

“Yesung Oppa~” panggil Hyora pada pria yang sedang sibuk dengan laptopnya. Pria yang bernama Yesung itu mengangkat wajahnya dan langsung tersenyum pada Hyora.

“Hyora-ya,” Yesung langsung memeluk Hyora dengan erat. “Wah, lama tidak bertemu dan sekarang kau semakin cantik saja,” puji Yesung sambil menatap Hyora takjub.

“Tentu saja,” jawab Hyora dengan bangga dan Yesung menyambut jawaban Hyora itu dengan tawa renyahnya.

Oppa seperti yang sudah aku katakan tadi, hari ini aku datang membawa pelayan baru yang akan bekerja di coffee shop milikmu,” kata Hyora. Tadi memang sebelum dia dan Donghae datang kemari, Hyora sempat menghubungi Yesung dan meminta bantuan Yesung, agar mau menerima Donghae bekerja di tempatnya.

Yesung lalu mengalihkan pandangannya pada Donghae. “Ehm, baiklah, kebetulan aku sedang membutuhkan seorang barista di sini,” ujar Yesung. Mendengar perkataan Yesung tadi wajah Donghae langsung memucat. Dia sama sekali tidak memiliki bakat membuat kopi.

“Kau tenang saja, nanti akan ada yang melatihmu,” kata Yesung seolah bisa membaca pikiran Donghae. Mendengar itu Donghae sedikit bernafas lega.

“Baiklah, sekarang aku akan mengantarmu menuju dapur tempat pembuatan minuman,” kata Yesung lagi. Kedua mata Donghae melebar. “Maksudnya aku mulai bekerja sekarang?” tanya Donghae tak percaya.

“Tentu saja,” jawab Yesung mantap. “Ayo aku antar,” Yesung lalu merangkul bahu Donghae dan membawa pria itu ke dapur. Melihat Donghae dan Yesung yang pergi menjauh, Hyora langsung bernafas lega. Sahabat kakak iparnya itu benar-benar telah menolongnya. Saat tadi Hyora menghubunginya, Yesung langsung dengan baik hati menerima permintaan Hyora itu, bahkan tanpa banyak bertanya Yesung juga setuju memberikan upah yang banyak untuk Donghae. Hyora sangat senang karena lagi-lagi dia bisa membantu Donghae.

To be Continued…
Ayo pada komen… Jangan jadi silent reader

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

21 thoughts on “You’ll Love Me, Oppa ~Part 2

  1. Teteh.. Aku dataaaaang.. \(‾▿‾)- -(‾▿‾)/ ‎​ sbnrnya udah baca dari part 1, tapi baru komennya di part 2 ini.. Jwesonghamnida.. Aku suka ceritanya.. Haepa gayanya asik banget dah.. Trus2 Hyora Eonnie jg usahanya keren.. Pantang menyerah buat menaklukan hatinya sang pangeran ikan, kekeke.. :p Banyak kosakata baru yg didapat/brb buka kamus.. Ditunggu part selanjutnya.. 🙂

    • Wah…. Haneul wasseo…. ngga papa kok baru komen di part 2 yang penting kan udah komen hehehehe….

      Makasih udah suka sama ceritanya…. Hae emang dibikin sedikit dingin sama cewe, jadi yah terpaksa itu Hyora adik dari pengusaha agensi sukses dibikin jatuh bangun ngejar Hae :p

      Wah sepertinya aku kudu bikin footnote kali yah biar pada ngga bingung hehehehehe

      Makasih yah Haneul sayang udah mampir…. *peluk*

  2. Abis tarawih lgsung baca part 2..hadeehh eon,byk kosakata bru,ga mudeng..hihihi
    Ah..tambah dalem ni eon ka ngehayatinya..
    “Kamu dan aku bukan pasangan kekasih dimasa lalu,sekarang atau nanti”
    *jlebbb..lgsung cari tissue eonn..
    Tpi sedihnya hyora ga brlarut..usaha lancar jaya,hehhehe
    Jadi ga sabar liat respon haeppa selanjutnya ni..
    Eon nana hwaiting bwt next chapter..:)

    • Hihihihihi sini aku kasih tau artinya yah biar mudeng
      -Naega ni Oppa ya : Apa aku Oppamu?
      -Oppa rago malhajima : Jangan panggil aku Oppa
      -jangnan hajima : Jangan bercanda
      -Maeumderoya : terserah kamu
      -neo gwisin iya : apa kamu hantu?
      -Amugeotdo aniya : tidak ada apa-apa

      Nah udah tuh, masih ada yang ngga tau? kasih tau aku nanti aku kasih tau jawabannya hehehehe

      Wah syukur atuh yah kalo Tika semakin menghayati hehehehe….

      Emang itu kata-katanya Hae rada menyayat hati banget hihihihi bikin pengen nangis aja

      Nie aku lagi bikin part lanjutannya kok… tungguin yah ^^ makasih loh udah mampir dan ninggalin komen *peluk*

  3. hyaaaaaaaaaaaaaa oci ketinggalan huhu…
    ini nih cerita versi kedua baek seung joo dan hani haha
    hyora pantang menyerah dan malah mendekati ibunya dan adenya haeppa
    hmmmm… mantap kan…
    itu haeppa nyadar kan kalo mereka bukan kekasih d masa lalu bhahaha….
    aiiiik deh akhirnya udah bs ngobrol ma haeppa prikitiw haha,,,
    hmmm, itu yesung bae amat tp baenya bukan karna ada maunya kan ?? jgn2 dia suka hyora lg.. oh no itu bs membuat hub haeppa ma hyora tambah rumit apalagi ini jungsoo oppa blm tau.. hoho
    lanjutlah part berikitnya 🙂

    • Hihihihihi udah kaya apaan ketinggalan… aduh dibilang cerita versi baek seung joo dan hani gtu heheheheh

      Iya dong, dalam kamusnya Hyora ngga ada itu kata menyerah hehehehehe…. sejak awal Hae udah ngeh kalo itu hanya bisa-bisaanya Hyora aja dan dengan car gitu baru dibuktiin :p

      Iya bisa ngobrol walaupun tetep yah diketusin ma Hae gitu hehehe tapi Hyora pantang mundur aja gitu.

      Eh Yesung benaran tulus bantuin Hyora tanpa ada maksud apa-apa, soalnya Yesung kan temennya Minhwa gitu dan Yesung udah nganggep Hyora adiknya sendiri 😀

  4. iyeeessss…
    suka banget liat karakter donghae disini…
    kesannya bermerk(?)…
    eh itu nanti si donghae bakalan suka ngga sama yoora???

  5. sampe segitu besarnya cinta hyora ke Donghae, sampe2 dy mau ngebantui donghae…cinta emg bisa buat seseorang mau melakukan apa aja untuk orang yang dicintainya…keren dech.
    Eon lanjut lg dech bacanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s